Sinergi Lintas Kelas dan Mata Pelajaran: MAN 2 Malang Awali Proyek Kokurikuler "Dari Sampah Jadi Berkah"

Kabar Madrasah 22 September 2026 Administrator
Sinergi Lintas Kelas dan Mata Pelajaran: MAN 2 Malang Awali Proyek Kokurikuler "Dari Sampah Jadi Berkah"

MAN 2 MALANG - Gerakan peduli lingkungan kini hadir dengan wajah baru di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Malang. Melalui program kokurikuler bertajuk “Dari Sampah Jadi Berkah” yang resmi dimulai pada 21 September s.d. 1 Oktober 2026—tepatnya seusai pelaksanaan Asesmen Tengah Semester Ganjil 2026-2027 setiap pukul 09.45–14.15 WIB—para peserta didik dari berbagai jenjang kelas (X, XI, dan XII) disatukan dalam sebuah gerakan nyata eco-preneurship. Proyek ini dirancang tidak hanya untuk membersihkan lingkungan madrasah, tetapi juga memproses sampah organik dan anorganik menjadi pupuk kompos kering bernilai jual. 

Menariknya, program ini mengusung Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) serta pendekatan Deep Learning yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Setiap jenjang kelas memiliki fokus integrasi mata pelajaran yang khas, mulai dari pengenalan dasar thaharah di kelas X, perhitungan statistika serta aritmatika sosial di kelas XI, hingga perencanaan manajerial usaha dan etika bisnis Islam di kelas XII. Perlu diketahui bahwa rangkaian kegiatan puncak berupa gelar karya dan presentasi dengan menghadirkan narasumber ahli baru akan diselenggarakan pada bulan Desember mendatang, sehingga berita ini difokuskan pada tahap awal peluncuran dan proses produksi proyek. 

Langkah Awal: Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata di Kelas X

            Perjalanan panjang pengolahan sampah ini dimulai dari bangku kelas X. Pada tahap awal, peserta didik dibimbing untuk memahami konsep dasar kebersihan lingkungan sebagai bagian dari iman (thaharah) serta pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mengintegrasikan mata pelajaran Fiqih, IPA, dan Bahasa Indonesia, para siswa terjun langsung melakukan observasi lapangan untuk memetakan titik-titik penumpukan sampah di area madrasah. 

Foto 1: Suasana peserta didik kelas X saat melakukan observasi lapangan dan mendata titik-titik penumpukan sampah di lingkungan madrasah.

Tidak berhenti pada pengamatan, siswa kelas X kemudian dilatih memilah sampah secara cermat, mencatat data berat serta volume awal, hingga menyusun draf laporan sederhana. Pengalaman belajar ini menumbuhkan karakter cinta lingkungan dan tanggung jawab sosial sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di Fase E. 

"Awalnya kami merasa tidak nyaman saat harus memilah sampah sisa makanan dan dedaunan di lingkungan madrasah. Namun, setelah dibimbing memahami bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, kami jadi lebih bersemangat dan sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan sejak dini," ungkap salah satu perwakilan siswa kelas X. 

Mengasah Nalar Kuantitatif dan Syariat di Kelas XI

Memasuki Fase F di kelas XI, kompleksitas proyek ditingkatkan melalui integrasi mata pelajaran Matematika, PJOK, dan Fiqih. Peserta didik ditantang mengaplikasikan ilmu statistika deskriptif dalam menyajikan data survei sampah ke dalam bentuk tabel dan diagram yang rapi. Selain itu, mereka mempelajari teknik ergonomis yang benar saat mengangkat beban guna menghindari cedera fisik. 

Foto 2: Peserta didik kelas XI tampak serius berdiskusi kelompok mengolah data mentah sampah.

Tahapan krusial di kelas XI berlanjut pada proses pengomposan, di mana siswa menghitung rasio perbandingan antara bahan organik tercacah, bioaktivator (seperti EM4), dan bahan penyeimbang secara akurat. Dari sisi Fiqih, mereka mendalami akad muamalah yang sah, larangan riba dan gharar, serta penerapan hak khiyar dalam bertransaksi. 

"Kami melihat adanya korelasi yang luar biasa nyata. Murid tidak hanya belajar teori matematika tentang perbandingan atau statistika di atas kertas, tetapi langsung menerapkannya untuk menakar bahan kompos dan menghitung titik impas usaha. Ini pembelajaran yang benar-benar bermakna," ujar Ibu Nur Saidah., selaku guru pendamping mata pelajaran. 

Membangun Kemandirian Kewirausahaan di Kelas XII

Sebagai penggerak utama di ujung Fase F, peserta didik kelas XII memegang kendali atas aspek manajerial, analisis keuangan, dan akuntabilitas usaha. Mengintegrasikan Matematika, PJOK, dan Aqidah Akhlak, para siswa kelas XII menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menetapkan margin keuntungan, serta memperkirakan Titik Impas (Break Even Point / BEP) secara mandiri.

Foto 3: Suasana koordinasi kelompok siswa kelas XII saat merancang label kemasan produk dan menyusun laporan keuangan menggunakan buku kas sederhana di dalam kelas.

Aspek akhlak dan fiqh muamalah ditekankan secara mendalam untuk memastikan kejujuran dalam mencantumkan informasi produk pada label kemasan. Seluruh proses produksi awal ini dikawal ketat sebelum nantinya produk dipasarkan secara luas pada agenda bazar dan gelar karya di bulan Desember mendatang. 

Foto 4: Aktivitas pendampingan peserta didik oleh guru pendamping saat untuk rencana pengolahan kompos di lingkungan madrasah

"Sebagai fasilitator, tantangan awal adalah membangun kesiapan mental dan kedisiplinan siswa dalam mengelola limbah. Namun, melalui pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta, anak-anak mulai menumbuhkan nilai kesabaran, istiqomah, dan tanggung jawab sosial sebagai khalifah di bumi," catat Bapak Nandar selaku fasilitator proyek kokurikuler.

"Kami sangat mengapresiasi inovasi pembelajaran kokurikuler lintas fase ini. Proyek 'Dari Sampah Jadi Berkah' yang berjalan seusai ATS Ganjil ini menjadi langkah awal yang sangat baik untuk membimbing peserta didik menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, matang berwirausaha, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan," pungkas Ibu Titien Sumartin selaku Kepala Madrasah. 

Kembali ke Beranda
Bagikan Info: